Aku menyemai benih ubi dengan cinta
Aku sirami dengan air mata
Sesampai waktu telah merundukkan bijinya, yang
Memberi isyarat musim pada senja untuk berdoa
Aku petik dengan ani-ani yang diasah, lalu
Mengupasnya hingga warna mutiaranya
Menggairahkan senyum bagi burung-burung
Hidup tanahku
Hidup doaku jadi ubi
Dari tanah abaimaida
Yang selalu tumbuh pada mimpi leluhurku
Kini,
kebunku telah menjadi gedung-gedung
Yang pondasinya dipenuhi butiran airmata
Hingga aku harus mati di lumbung padi
Karena pasar ditumpuk padi dari luar negeri






Tidak ada komentar:
Posting Komentar