Aku melihat langit menyeka bulir sendu air mata
ketika malam seakan hilang rupa diwajahnya
: padahal kebiasaannya adalah tersenyum lembut saat menatapku
namun, hanya muram yang kini ia bisa bagi denganku
aku mulai dihujani pertanyaan-pertanyaan risau
bikin angin semakin keras mendesau
berlari, mencari celah jawaban Tuhan
yang mungkin sudah tertulis pada dahan-dahan
bikin angin semakin keras mendesau
berlari, mencari celah jawaban Tuhan
yang mungkin sudah tertulis pada dahan-dahan
tiba-tiba lirih kudengar ada yang bercakap disebalik dadaku
: “adalah sepasang pintu surga menantimu,
o…kekasih,
mereka begitu dekat, selalu berharap kau selamat,
lalu do’a-do’a mereka mencakar segala gusar,
meredamkannya bagai deras air yang mengular,
maka kumohon pulanglah dulu, o…kekasih,
basuhi kerinduan mereka dengan kelembutan dan asih.”
mereka begitu dekat, selalu berharap kau selamat,
lalu do’a-do’a mereka mencakar segala gusar,
meredamkannya bagai deras air yang mengular,
maka kumohon pulanglah dulu, o…kekasih,
basuhi kerinduan mereka dengan kelembutan dan asih.”
kutengadahkan kedua tanganku
berharap sepasang pintu surga terus terbuka
sampai saat nanti aku memasukinya
wahai ibu… ayah…
segera ku basuhi segala kerinduan
kita rajut lagi kebersamaan
kemudian kita sulut cahaya dalam rumah
melukisnya menjadi serupa Jannah.
kita rajut lagi kebersamaan
kemudian kita sulut cahaya dalam rumah
melukisnya menjadi serupa Jannah.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar